Momentum of Islam

Hari ini aku menjauhkan diri dari bisingnya lalu lalang orang-orang. Diriku melangkah ke sebuah tempat sepi, tempat di mana tak ada seorangpun kecuali diriku. Karena di sanalah tempat orang tinggal dengan kebahagiaannya dan kedamaiannya.

Diriku duduk di tempat itu. Ku lihat dan ku bayangkan desaku di sana. Betapa kacaunya sekarang. Rumah-rumah berdiri megah, tinggi, menjulang langit. Jalan-jalan yang tiada henti di lewati sumber-sumber kesombongan manusia.

“zaman modern…” teriakku.

Diriku duduk sambil membayangkan kerja manusia di kejauhan sana. Dan diriku menemukan mereka dalam keribetan dan ketegangan jiwa.

“demi uang…” teriak mereka.

“demi hidup…” teriak yang lain.

Didalam batinku, aku berusaha melupakan apa yang menimpa mereka, dan diriku memalingkan mataku kearah kampung kedamaian. Di sana yang ku dapati suma onggokan tanah, batu nisan yang dikelilingi pohon-pohon bunga kamboja. Lantas diriku merenung…

desaku telah menjadi kota.

indah dalam pandangan mata.

semua ada dan tersedia.

bahagia bagi sebagian mereka.

desaku telah jadi kota kehidupan

di sana terjadi kesibukan

kelelahan yang tiada penghabisan

sesuatu yang tak ada penyelesaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: